Filsafat Islam: Mengupas Filsafat Peripatetik dan Isyraqiyyah
![]() |
| https://alif.id/read/ahmad-rofiq/filsafat-peripatetik-islam-pewaris-ajaran-aristotelianisme-dan-neoplatonisme-2-b248289p/ |
Filsafat Peripatetik
Filsafat Masyaiyyah (Peripatetik) berasal dari istilah "masyyi" yang berarti "berjalan," yang disebut juga dengan filsafat berjalan. Filsafat Peripatetik adalah metode filsafat yang berfokus pada analisis rasional dan logika untuk mencari kebenaran. Metode ini menggunakan akal untuk memahami alam semesta dan prinsip-prinsip metafisika. Diantara tokohnya yang paling terkenal adalah Ibnu Sina (Avvicena), Al-Faraby, Al-Kindi, dan Ibnu Rusyd (Averroes). Filsafat paripatetik ini pemikirannya banyak mengikuti filsuf Yunani. Filsuf Yunani yang dimaksud ialah Aristoteles.
Kekekalan alam sebenarnya adalah pemikiran filsuf Yunani yang bernama Aristoteles. Para filsuf paripatetik seperti Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd menyatakan bahwa alam itu diciptakan tidak dalam waktu. Itu berarti bahwa alam itu bersifat kekal dalam pengertian bahwa adanya alam itu bersamaan dengan adanya Tuhan. Para filsuf paripatetik menganalogikan Tuhan dengan alam ibarat matahari dengan sinarnya. Artinya, matahari dan sinarnya adalah sebuah kesatuan, tanpa terikat batasan waktu. Hal itu juga yang menyatakan Alam bersifat dahulu (qadim) menurut filsuf paripatetik.
Filsafat Peripatetik muncul pada zaman Daulah Abbasiyah, di mana karya-karya Aristoteles dan filsuf Yunani lainnya diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Salah satu tokoh penting dalam pengenalan filsafat Yunani ke dunia Islam adalah al-Kindi (801–873 M), yang dikenal sebagai "Philosopher of the Arabs". Dia melakukan upaya awal untuk menyintesis ajaran-ajaran Aristoteles dengan Islam.
Namun, perkembangan paling signifikan dalam Filsafat Peripatetik terjadi di bawah pemerintahan Daulah Abbasiyah, terutama pada masa pemerintahan Khalifah Al-Ma'mun (memerintah 813–833 M). Al-Ma'mun mendirikan Bait al-Hikmah (Rumah Kebijaksanaan) di Baghdad, sebuah pusat intelektual yang mendukung terjemahan karya-karya filsafat klasik ke dalam bahasa Arab dan penyebaran pengetahuan.
Filsafat Peripatetik memiliki pengaruh yang luas dalam perkembangan ilmu pengetahuan, filsafat, dan pemikiran Islam. Salah satu kontribusi terbesar aliran ini adalah pengantarannya terhadap metode ilmiah yang sistematis dalam penyelidikan alam semesta. Karya-karya para filsuf Peripatetik Muslim membantu menyelaraskan antara ajaran-ajaran Islam dan filsafat Yunani. Mereka memainkan peran penting dalam mengembangkan pemikiran keagamaan, etika, metafisika, dan logika dalam konteks Islam. Pengaruh filsafat Peripatetik ini juga dapat dilihat dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di dunia Islam, yang telah memberikan kontribusi besar bagi kemajuan peradaban manusia (Suhandoko, 2024).
Filsafat Isyraqiyyah
Kata Ishraqiyyah berasal dari kata "isyraq" yang berarti "pencerahan" atau "cahaya". Filsafat ini dikenal juga dengan Filsafat Illuminasi atau Filsafat Pencerahan, dan terfokus pada sisi tasawuf dan iluminatif dalam memperoleh ilmu. Tokoh utama: Penemu filosofi ini adalah Shihab al-Din Suhrawardi, juga dikenal sebagai Suhrawardi Al-Maqtul. Metodenya yaitu menggabungkan pengetahuan supranatural, pengalaman spiritual, dan kontemplasi. Metode ini dianggap lebih esoteris, dan bertujuan untuk mencapai pancaran batin melalui komunikasi langsung dengan sumber cahaya Ilahi.
Filsafat yang terbangun dari dua unsur yaitu unsur filsafat dan unsur tasawuf, filsafat yang menggabungkan peran rasio dengan intuisi (tasawuf), hal inisangat beralasan karena Suhrawardi adalah seorang filsuf dan sekaligus seorang sufi (Hadariansyah AB, 2012). Dalam mazhab Isyraqi Suhrawardi mencoba menggabungkan cara nalar dan cara intuisi, menganggap keduanya saling melengkapi. Menurutnya, nalar tanpa intuisi dan iluminasi adalah kekanak-kanakan dan rabun, serta tidak akan pernah bisa mencapai sumber transenden dari segala kebenaran dan penalaran, sedangkan intuisi tanpa penyiapan logika serta latihan dan pengembangan kemampuan rasional bisa terasa dan tidak akan dapat mengungkapkan dirinya secara ringkas dan metodis (Junaedi, 2017).
Sebelum teori filsafat Suhrawardi, sudah berkembang teoriteori filsafat yang banyak menggunakan istilah akal seperti teori filsafat Al-Farabi dan Ibnu Sina dengan teori Emanasi, sedangkan Suhrawardi menggunakan sebutan akal dengan sebutan Nȗr (cahaya) di dalam (Hadariansyah AB, 2012). Konsep iluminasi Suhrawardi pada dasarnya merupakan bentuk pengembangan dari teori Emanasi Peripatetik Muslim, al-Farabi dan Ibnu Sina. Jadi dapat dikatakan bahwa filsafat iluminasi Suhrawardi bertolak dari konsep neo-emanasi, karena pada dasarnya, iluminasi Suhrawardi bertolak dari konsep pelimpahan atau Emanasi yang telah ada. Dengan ajaran teosofisnya, Suhrawardi mampu membangun suatu cabang aliran pemikiran baru dalam tradisi pemikiran Islam, sehingga wajar jika Suhwardi diberi gelar sebagai pendiri Filsafat Iluminasi (Junaedi, 2017).
Wallahu a'lam.
Baarakallahu fiik.


Komentar
Posting Komentar