Pembicaraan Rahasia dalam QS. Al-Mujadalah Ayat 9-10 Perspektif Tafsir Ath-Thabari
![]() |
| https://images.app.goo.gl/JvM2y9tsbKV9JJvZA |
- Quran Surah Al-Mujadalah ayat 9:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا تَنَٰجَيۡتُمۡ فَلَا تَتَنَٰجَوۡاْ بِٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٰنِ وَمَعۡصِيَتِ ٱلرَّسُولِ وَتَنَٰجَوۡاْ بِٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِىٓ إِلَيۡهِ تُحۡشَرُونَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu mengadakan pembicaraan rahasia, janganlah kamu membicarakan perbuatan dosa, permusuhan dan durhaka kepada Rasul. Tetapi bicarakanlah tentang perbuatan kebaikan dan takwa. Dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya kamu akan dikembalikan."
Dalam kitab tafsirnya, Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa maksud dari ayat di atas adalah, Allah Swt. mengingatkan, "hai orang-orang yang percaya akan Allah dan Rasul-Nya, jika kalian berbisik antar kalian maka janganlah berbisik mengenai dosa dan permusuhan atau kerduhakaan kepada Rasul, melainkan berbisiklah mengenai kebaikan dan ketaatan kepada Allah serta hal-hal yang dapat mendekatkan kalian ke arah itu. Dan maksud dari kata "at-taqwa" dari ayat di atas yaitu takut kepada Allah dengan menjalankan semua kewajiban dari-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya." Dan firman-Nya; وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ "Dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya kamu akan dikembalikan," maksudnya adalah, takutlah kepada Allah yang merupakan tempat kembali kalian semua.
Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa ayat ini diturunkan terkait dengan suatu kebiasaan yang ada di kalangan kaum Muslimin, di mana beberapa orang berbisik-bisik satu sama lain dalam urusan yang tidak baik, seperti melakukan persekongkolan untuk merencanakan dosa atau permusuhan. Ayat ini memperingatkan mereka untuk tidak saling berbisik dalam hal tersebut. Sebaliknya, mereka diperintahkan untuk berbisik dalam membicarakan urusan yang mendatangkan kebaikan, seperti berbicara tentang amal shalih, saling menasehati dalam takwa, dan hal-hal yang bisa mendekatkan diri kepada Allah.
- Quran Surah Al-Mujadalah ayat 10
إِنَّمَا ٱلنَّجۡوَىٰ مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ لِيَحۡزُنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَيۡسَ بِضَآرِّهِمۡ شَيۡئًا إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ
"Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu termasuk (perbuatan) setan, agar orang-orang yang beriman itu bersedih hati, sedang (pembicaraan) itu tidaklah memberi bencana sedikit pun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah. Dan kepada Allah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakal."
Dalam kitab tafsirnya, Imam Ath-Thabari memberikan penjelasan bahwa maksud ayat di atas adalah, sesungguhnya berbisik atau mengadakan pembicaraan rahasia itu dari syetan.
Para ulama berbeda pendapat mengenai berbisik yang dikatakan oleh Allah berasal dari syetan itu. Sebagian mengatakan bahwa itu merupakan bisik-bisik sesama orang munafik. Mereka yang berpendapat demikian, berdasarkan dalam hadis:
- Bisyr menceritakan kepada kami, dia berkata: Yazid menceritakan kepada kami, dia berkata: Sa'id menceritakan kepada kami dari Qatadah, tentang firman Allah إِنَّمَا النَّجْوَى مِنَ الشَّيْطَانِ يَحْزُنَ الَّذِينَ مامنُوا وَلَيْسَ بِضَارِهِمْ شَيْئًا "Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari syetan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita, sedang pembicaraan itu tiadalah memberi mudharat sedikit pun kepada mereka," ia berkata, "Maksudnya adalah, orang-orang munafik biasa saling berbisik antar mereka, dan hal itu membuat marah orang-orang mukmin. Allah lalu menurunkan ayat إِنَّمَا النَّجْوَى مِنَ الشَّيْطَانِ لِيَحْزُنَ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَلَيْسَ بِضَارِهِمْ شَيْئًا "Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari syetan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita, sedang pembicaraan itu tiadalah memberi mudharat sedikit pun kepada mereka"..."[1]
- Yunus menceritakan kepadaku, dia berkata: Ibnu Wahb mengabarkan kepada kami, dia berkata: Ibnu Zaid berkata tentang إِنَّمَا النَّجْوَى مِنَ الشَّيْطَانِ لِيَحْزُنَ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَلَيْسَ بِضَارِهِمْ firman Allah شَيْئًا إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ "Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari syetan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita, sedang pembicaraan itu tiadalah memberi mudharat sedikit pun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah," dia berkata, "Ada seseorang yang datang kepada Rasulullah SAW untuk menanyakan suatu keperluan, supaya orang-orang mengira dia telah berbisik kepada Rasulullah SAW. Nabi SAW memang tidak pernah melarang itu kepada siapa pun. Waktu itu sedang banyak peperangan di negeri tersebut. Iblis kemudian menggoda orang- orang dengan mengatakan kepada mereka, 'Mereka tidak lain membisikkan sesuatu yang telah terjadi, kumpulan yang sudah terkumpul untuk kalian'. Oleh karena itu, Allah berfirman, إِنَّا النَّجْوَى مِنَ الشَّيْطَانِ لِيَحْزُنَ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَلَيْسَ بِضَارِهِمْ شَيْئًا إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ 'Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari syetan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita, sedang pembicaraan itu tiadalah memberi mudharat sedikit pun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah.."[2]
- Ibnu Abdil A'la menceritakan kepada kami, dia berkata: Ibnu Tsaur menceritakan kepada kami dari Ma'mar, dari Qatadah, dia berkata, "Apabila orang-orang mukmin melihat orang-orang munafik saling berbisik, maka ada yang tidak nyaman di hati mereka. Oleh karena itu, turunlah ayat إِنَّمَا النَّجْوَى مِنَ الشَّيْطَانِ لِيَحْزُنَ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَلَيْسَ بِضَارِهِمْ شَيْئًا إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ "Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari syetan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita, sedang pembicaraan itu tiadalah memberi mudharat sedikit pun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah.."[3]
Ada yang berpendapat bahwa maksud dari bisikan dari syetan di sini adalah mimpi ketika tidur yang biasa dilihat seseorang lalu membuatnya sedih.
Mereka yang mengatakan demikian adalah sebagaimana sebuah hadis:
- Ibnu Humaid menceritakan kepada kami, dia berkata: Yahya bin Daud Al Bulkhi menceritakan kepada kami, dia berkata: Athiyyah ditanya-dan aku mendengarkannya tentang mimpi, lalu dia menjawab, "Mimpi ada tiga tingkatan, ada yang merupakan bisikan dari syetan, dan itulah maksud firman Allah إِنَّمَا النَّجْوَى مِنَ الشَّيْطَانِ "Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari syetan. Ada yang berupa pikiran yang terbawa sejak siang harinya dan baru terbayang pada malam hari, dan ada pula seperti orang yang mengambil dengan tangan. "[4]
Allah lalu menjelaskan sebab terlarangnya hal itu dengan berfirman إِنَّمَا النَّجْوَى مِنَ الشَّيْطَانِ لِيَحْزُنَ الَّذِينَ ءَامَنُوا "Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari syetan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita."
Jelaslah bahwa apa yang dilihat seseorang dalam mimpinya bisa termasuk seperti itu pula.
Firman-Nya, وَلَيْسَ بِضَارِّهِمْ شَيْئًا إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ "Sedang pembicaraan itu tiadalah memberi mudharat sedikit pun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah," maksudnya adalah, pembicaraan rahasia atau bisikan mereka tidak akan membahayakan kaum mukmin kecuali Allah menghendaki, atau dengan takdir dari Allah.
Firman-Nya وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ "Dan kepada Allahlah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakal," maksudnya adalah, orang beriman hanya menyerahkan urusannya kepada Allah. Mereka tidak akan sedih terhadap tipu daya orang terhadap mereka. Pembicaraan rahasia orang lain tidak akan membahayakan mereka, karena mereka sudah menyerahkannya kepada Allah, Tuhan mereka.
Secara keseluruhan, Imam Ath-Thabari dalam tafsirnya mengatakan bahwa ayat di atas mengingatkan bahwa tindakan berbisik dalam hal-hal negatif atau yang dapat menumbuhkan permusuhan di kalangan umat Islam, seperti yang dilakukan setan, harus dihindari. Sebaliknya, berbisik dalam hal-hal yang mendorong kebaikan dan takwa adalah yang seharusnya dilakukan.
Wallahu a'lam.
Baarakallahu fiik.
Catatan:
[1] Ibnu Al Jauzi dalam Zad Al Masir (8/188) dari Ibnu Abbas, dan Ibnu Athiyyah dalam Al Muharrar Al Wajiz (5/277).
[2] Ibnu Athiyyah dalam Al Muharrar Al Wajiz (5/227).
[3] Abdurrazzaq dalam tafsirnya (3/293).
[4] Al Baihaqi dalam Syu'ab Al Iman (4/188).



Komentar
Posting Komentar